Siapa di sini yang hobi belanja online? Apalagi ketika puncak harbolnas, menjelang akhir tahun ataupun event khusus yang dilaksanakan setiap bulannya seperti 1.1, 2.2 dan seterusnya. Biasanya berbagai website ataupun aplikasi marketplace akan memberikan banyak penawaran dan diskon yang menarik bagi pelanggan. Tapi Pernah gak sih kamu membayangkan bagaimana bisa website ataupun aplikasi marketplace tersebut melayani ratusan pelanggan setiap harinya? terlebih ketika menghadapi event khusus? Meskipun mengalami lonjakan traffic yang tinggi, website atau aplikasi marketplace tersebut jarang mengalami gangguan. Rahasianya terletak pada penggunaan load balancing pada infrastruktur yang digunakan. Singkatnya, load balancing ini akan membagi bagi workload yang dimiliki oleh sebuah website ataupun aplikasi agar lebih seimbang dan stabil. Ingin tahu lebih banyak tentang load balancing? Yuk kita bahas bersama!
Apa itu Load Balancing?
Load balancing adalah metode yang biasanya digunakan untuk mendistribusikan traffic ataupun beban kerja ke beberapa server agar lebih seimbang dan terhindar dari overload. Server yang mengalami overload biasanya akan membuat proses memuat halaman menjadi lebih lambat bahkan error dan tidak terhubung sama sekali.
Fungsi dan Manfaat Load Balancing
-
Mengurangi Beban Server
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, fungsi utama dari penggunaan load balancing tentu untuk mengurangi beban pada server. Lonjakan traffic pengguna pada sebuah website ataupun aplikasi tentu akan membuat server mengalami overload, bila terjadi overload server tersebut akan down dan tidak dapat diakses oleh pengguna. Maka dari itu load balancing membagi beban request akses dari pengguna agar server berjalan lebih maksimal dalam menangani request yang tinggi.
-
Mempercepat Akses
Dengan menggunakan load balancer pada server, maka website ataupun aplikasi pada server tersebut dapat diakses lebih cepat. Hal ini dikarenakan beban dari pengguna ditangani oleh dua atau lebih server secara merata sehingga dapat ditangani dengan lancar tanpa harus memperlambat kinerja dari server.
-
Redudansi
Jika terdapat 3 server dan salah satunya mengalami kerusakan (down) maka 2 server lainnya akan memastikan website ataupun aplikasi dapat berjalan dengan lancar dan diakses oleh pengguna tanpa harus terkena dampak dari adanya downtime ataupun gangguan. -
Menghemat Resource
Berbicara mengenai resource, tentu saja akan ada perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan sebuah load balancer akan memaksimalkan penggunaan server yang kamu miliki dengan membagi workload secara merata.
Cara Kerja Load Balancing
Ibarat polisi lalu-lintas yang bertugas untuk mengurai kemacetan dan mencegah terjadinya insiden di jalanan, load balacer juga memiliki cara kerja dan tugas yang serupa yaitu memastikan arus lalu-lintas traffic sebuah aplikasi atau website dapat berjalan lancar dan bebas dari kemacetan (overload).

Contohnya, ketika ada pengguna yang ingin mengakses aplikasi ataupun website kamu, hal yang pertama dilewati adalah load balancer. Nah, saat traffic masuk, load balancer akan bekerja dengan membagikan traffic ke salah satu dari tiga server yang tersedia secara merata dan optimal. Hasilnya, kinerja server akan lebih stabil dan tidak overload karena terlalu banyak traffic. Prinsipnya, apapun bentuk perangkat load balancing (load balancer) yang digunakan, perangkat ini akan mendistribusikan traffic ke beberapa server. Jika salah satu server down, load balancer akan mengalihkan traffic yang masuk ke server lainnya yang tersedia sehingga pengguna tetap dapat mengakes website ataupun aplikasi dengan lancar.
Pada waktu yang bersamaan, penggunaan load balancer juga bisa meningkatkan pengalaman pengguna (user experience) yang lebih baik lho. Bagaimana tidak, akses website atau aplikasi kan jadi lebih lancar dan cepat,pengguna mana sih yang gak suka mengakses website atau aplikasi dengan lancar dan bebas hambatan?
Jenis Load Balancing
Sebelum menggunakan load balancer pada website ataupun aplikasimu, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, misalnya jenis load balancer yang cocok untuk rancangan topologimu. Berdasarkan konfigurasinya, load balancing terbagi menjadi 2 yaitu: hardware dan software load balancer.
-
Hardware Load Balancer
Seperti namanya jenis load balancer yang satu ini berbentuk perangkat keras atau hardware. Karena berbentuk fisik, load balancer ini harus diletakkan bersama dengan server di data center lokal. Biasanya, load balancer jenis ini sanggup menangani traffic dalam jumlah yang besar. Adapun beberapa contoh hardware load balancer, yaitu: Cisco System Catalyst, Coyote Point, F5 Network BIG-IP, Baraccuda load-balancer.
-
Software Load Balancer
Kebalikan dari jenis sebelumnya, software load balancer yang satu ini dapat di-install pada sebuah server ataupun virtual machine. Karena berbentuk software load balancer yang satu ini menawarkan fleksibilitas yang tinggi bagi pengguna. Jika ada penambahan fitur atau fasilitas tambahan, kamu tidak perlu mengganti keseluruhan perangkat load balancer. Selain itu, ketika mengalami lonjakan traffic ataupun permintaan akses yang tinggi, kamu dapat mengkonfigurasi load balacer ini sesuai dengan kebutuhan. Performa dari software load balancer dipengaruhi oleh jenis perangkat yang digunakan untuk meng-install load balancer, misalnya RAM dan juga jenis storage yang digunakan. Software load balancer sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu komersial dan open source. Beberapa contoh software load balancer yaitu: Nginx, HAProxy dan Avi Vantage Software Load Balancer.
Hardware dan Software Load Balancing, Pilih yang Mana?
Selain dari penjelasan di atas, berikut ini adalah perbandingan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis load balancer yang dapat membantu kamu memilih jenis load balancer yang tepat.
-
Hardware Load Balancer

-
Software Load Balancer

Selain melakukan optimasi pada sisi script, penggunaan load balancing menjadi solusi yang tepat jika dirasa perfroma server pada aplikasi ataupun website kamu mulai melambat. Ditambah lagi, load balancing juga dapat menjaga Service Level Agreement (SLA) dan mempertahankan kestabilan server kamu. Ketika ingin membangun website ataupun aplikasi, pastikan provider yang kamu gunakan telah dilengkapi dengan fasilitas load balancer.
Layanan cloud dan server dari Biznet Gio seperti GIO Public, GIO Private dan NEO Virtual Compute sudah dilengkapi dengan fasilitas load balancer secara gratis! Kamu juga bisa menggunakan load balancer tambahan seperti GSLB (Gloabal Server Load Balancing), HAProxy ataupun Cloud Flare pada layanan Biznet Gio untuk membagi workload pada server dengan rancangan infrastruktur yang berbeda (misalnya: On Premise) sehingga mampu meningkatkan redundansi server. Untuk info lebih lanjut, kamu bisa berdiskusi langsung dengan Cloud Expert kami melalui sales@biznetgio.com.

